Sabtu, 02 November 2013



 1.  Dampak Kelainan terhadap Anak.
ABK adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang secara signifikan berbeda dengan anak normal, sehingga dalam kehidupan dan kegaiatnnya memerlukan perlakuakn khusus. Hal ini sudah barang Gangguan dan hambatan yang dialami Anak Berkebutuhan Khusus secara garis besar menimbulkan dua macam dampak/ aspek/akibat yang bersifat secara langsung (direct effecis ) dan tidak langsung (nondirect effecis ).

1.1.      Dampak langsung.                  1.
Banyak hal yang dapat ditengarai sebagai akibat langsung dari kelainan yang ada pada diri Anak Berkebutuhan Khusus, misalnya seorang anak yang memilki hambatan penglihatan sehingga ia buta, maka ia tidak dapat melihat, seorang yang rusak organ pendengarannya, maka ia tidak dapat mendengar, dan seorang yang memilki hambatan dalam kecerdasannya maka ia akan lambat/tidak dapat berfikir.
·         Gangguan mobilitas atau ambulasi.
Gangguan ini dapat diakibatkan oleh adanya kelumpuhan, kebutaan atau kekakuan gerak anggota tubuh terutama anggota gerak bawah diakibatkan oleh adanya gangguan keseimbangan anggota tubuh.
·         Gangguan Aktifitas Bina Diri / Aktifity Daily Living ( ADL ).
Gangguan ini dalam kegiatan sehari-hari ,oleh karena adanya gangguan koordinasi motorik kasar ataupun halus atau visuomotorik , penglihatan anak sehingga mengakibatkan adanya gangguan kegiatan memegang, menggenggam, meraih benda, kesulitan dalam mengarahkan gerakan tangan, gerakan kaki pada obyek tertentu yang hubungannya dengan aktivitas : makan, penggunaan toilet, berhias, dan sebagainya.
·         Gangguan dalam komunikasi
Akibat dari hambatan penglihatan, pendengaran, kecerdasan, emosi  social, dan tingkah laku, maka dampak yang ada pada Anak Berkebutuhan Khusus adanya gangguan komunikasi ( terutama dalam komunikasi lesan).
·         Gangguan fungsi mental
ABK yang memiliki hambatan penglihatan, pendengaran, kecerdasan, fungsi gerak, emosi maupun sosialnya akan berdampak dalam gangguan fungsi mentalnya.Misalnya pada gangguan fungsi mental pada anak yang memiliki hambatan penglihatan akan berdampak pada emosinya, kekurang percayaan diri(self esteem), minder atau malah terkadang tidak terkontrol emosinya.Gangguan fungsi mental pada anak Cerebral Palsy (CP) dengan kadar kecerdasan yang rendah, maupun pada anak CP yang memiliki kadar kecerdasan normal atau supenormal dapat terganggu akibat dari hambatan fisik yang berhubungan dengan fungsi gerak dan adanya perlakuan yang keliru dari lingkungan.Misalnya anak CP yang sebenarnya cerdas, karena keterbatasan gerak mengakibatkan tugas-tugas yang diberikan kepadanya tidak dapat diselesaikan dengan benar, akibatnya dianggap anak tidak mampu mengerjakannya. Akibat yang lebih jauh ia peroleh perlakuan yang kurang mendukung pengembangan potensi anak secara utuh.
·         Gangguan Sensoris
Gangguan sensoris pada Anak Berkebutuhan Khusus akan menimbulkan dampak pada sensoris pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan gangguan orientasi ruang, bentuk, warna, jarak, dan lain-lain.

1.2.      Dampak tidak langsung.
Dampak tidak langsung ( dampak sekunder) disini adalah reaksi penyandang kelainan/hambatan dan gangguan tersebut. Seorang anak yang mengalami hambatan dalam geraknya, misalnya anak CP mengalami kelumpuhan pada satu tangannya pada usia menginjak dewasa, sudah saatnya ia memilih pasangan hidupnya ( pasangan lawan jenisnya) sebagai tempat berbagi suka dan duka. Namun dikarenakan kondisi kelainannya, ia sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan, minder dan tidak berani menjalin keakraban dengan teman-temannya.Sehingga dampak yang timbul adanya penyesalan diri, penyesalan terhadap orang tua dan orang lain disekitarnya. Bentuk reaksi atas kondisi kelainannya/hambatannya akan berbentu pada kebencian terhadap dunia luar, sehingga menimbulkan sikap negatip ia rendah diri, isolasidiri,merasa tidak berdaya dan tidak berguna.

Konsep diri pada dasarnya diperoleh melalui kontak sosial dan pengalaman yang berhubungan dengan orang lain. Dampak tidak langsung pada Anak Berkebutuhan Khusus dapat dideskripsikan secara singkat sebagai berikut:
·         Bahwa dampak tidak langsung dari kelainan dan hambatan yang dialami anak, sangat tergantung bagaimana anak memberikan reaksi atas kondisi kelainannya.
·         Dampak tidak langsung dari kelainan ini tidak dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk sejak usia kanak-kanak, dan dipengaruhi oleh perlakuan yang diterima dari lingkungan terutama keluarga. Sehingga lingkungan sosial, terutama orang yang paling berarti dalam hidupnya, ikut menentukan berat ringannya dampak tidak langsung Anak Berkebutuhan Khusus.

Manifestasi dampak tidak langsung antara lain adalah:
·         Harga diri anak, anak menjadi tidak percaya diri,  mengkritik diri sendiri, atau malah tidak mau menerima kritik, menolak dan menghindari untuk meningkatkan kemampuan diri, menarik diri dari realitas, tidak pemberani, ragu-ragu , dan lain-lain.
·         Perilaku yang berhubungan dengan identitas diri yang tidak jelas, seperti misalnya kecintaan pada diri sendiri yang patologis, kecemasan yang tinggi, perasaan yang kosong, hubungan interpersonal yang kacau, dan sebagainya.
·         Perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi, tampak pada sikap pasif dan tidak merespon lingkungan secara baik, komunikasi yang kurang selaras, kurang spontan, kurang ada inisiatif, ragu dalam mengambil keputusan, menarik iri dari hubungan sosial, dan sebagainya.

2.       Dampak Kelainan Bagi Keluarga   
Berbagai masalah keluarga, mungkin akan muncul sebagai akibat kehadiran anak yang cacat, apalagi yang tidak dikehendaki kelahirannya. Berbagai kasus yang ada dalam masyarakat modern. Ada kemungkinan suatu peristiwa, seorang anak dilahirkan dengan kondisi kepalanya dengan ukuran kecil serta matanya membesar, anak itu dilahirkan di dalam lingkungan keluarga yang miskin sehingga ibu saat mengandung kekurangan gizi. Ketika menghadapi anak dengan kondisi sepert itu mereka putus asa, bingung, malu serta merasa tidak punya jalan, mereka sudah membayangkan untuk membesarkan anaknya, anak yang lahir dalam kondisi demikian membutuhkan biaya yang tinggi agar anaknya bisa diberikan pengobatan atau gizi yang lebih baik serta perawatan dokter agar anaknya menjadi tumbuh secara normal. Jika tidak mendapatkan perawatan maka anak tersebut akan menjadi terhambat baik dalam perkembangan otaknya, fisiknya , emosinya dan sosialnya. Kemudian mungkin timbul niat jahat untuk menghilangkan anak dengan berbagai cara.
 
Menurut Kirk & Gallahan (1993) dalam Salim ( 1996), bahwa keberadaan penyandang kelainan di tengah-tengah keluarga, akan dapat menimbulkan dua macam krisis yaitu.
·      Krisis yang pertama, orangtua menghadapi anaknya sebagai kondisi kematian secara simbolis. Lebih jauh Kirk & Gallahan menjelaskan bahwas seorang ibu yang menantikan kelahiran bayi yang didambakan ternyata setelah lahir mengalami kelainan, maka kemudian hancurlah semua harapan dan impiannya. Kasus yang menimpa seorang ibu tersebut karena saat hamil tidak menghendaki anaknya lahir sehingga ibu berusaha untuk menggugurkan kandungannya dengan minum obat-obatan atau minum minuman keras.
·      Krisis yang kedua, adalah masalah yang berkaitan dengan kesulitan orangtua, dalam merawat, membimbing dan mendidik anak yang berkelainan. Orangtua tidak tahu bagaimana harus merawat, mengasuh, mendidik anaknya yang berkelainan menjadi anak yang berpendidikan, memiliki kehidupan yang layak, secara ekonomi, vocasional maupun sosial. Sehingga dalam berbagai tahapan kehadiran anak menjadi beban semua anggota keluarga.

Berbagai kasus dapat digambarkan sebagai ilustrasi. Seorang ibu yang memiliki anak Autisme. Kondisi anak Autisme ini memiliki tingkah laku yang aneh, anak suka dengan benda-benda tertentu. Jika anak tersebut dibawa dilingkungan masyarakat yang belum paham adanya kondisi anak baik segi psikis, sosial, dan model  komunikasinya,andangannya yang tidak terfokus, dan lain-lain,maka orangtuanya akan malu jika anaknya timbul keanehan-keanehan di hadapan orang lain, mungkin juga akan menjadi bahan pembicaraan yang aneh.  Di samping kekhususan dalam emosi dan komunikasinya, anak Autisme juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehinga  mau tidak mau ekonomi keluarga juga terpengaruh. Anak Autisme akan berhasil dalam pendidikan bila mendapat penanganan yang tepat, anak demikian membutuhkan therapy tingkah laku, therapy accupashy, therapy sosial, therapy medis dan lain-lain, yang semuanya memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Dari kasus tersebut dapat pula digambarkan bahwa orangtua merasa terpukul atau schock dengan kondisi anaknya, orangtua merasa ragu-ragu untuk merawat anaknya, perasaan benci pada diri sendiri dan merasa berdosa. Banyak orangtua yang menghindar dari kenyataan sehingga anaknya di sembunyikan dalam kamar yang tidak terlihat oleh orang lain, atau menyerahkan ke panti-panti. Tetapi ada pula kelompok orang tua yang dengan penuh kasih sayang mencarikan pengobatan, berusaha maksimal untuk memelihara dengan jalan mencari informasi-informasi pada para profesional. Ini adalah menunjukkan bahwa penerimaan orangtua terhadap kehadiran anak berkelainan bervariasi. Pada masa-masa yang akan datang tentu saja banyak orang tua yang telah menyadari bahwa anak berkebutuhan khusus mendapatkan  kesempatan untuk bersekolah , orangtua mengharapkan pada anaknya untuk berkembang lebih baik dengan menyekolahkan anaknya sehingga dapat pergi kesekolah yang terdekat dari tempat tinggalnya.


  3.  Dampak Kelainan Bagi Masyarakat.
Terkait dengan dampak yang muncul dalam masyarakat, cobalah Anda cermati kasus berikut. Kasus yang menimpa keluarga Handoyo! Mereka memiliki anak cacat ganda dengan kondisi anak tidak dapat melihat dan juga tidak mendengar serta kondisi kecerdasannya yang rendah. Untuk berjalanpun anak tersebut harus digendong, makan membutuhkan bantuan serta kesulitan dalam mengenal benda-benda dilingkungannya, demikian juga ketika pergi ke toilet selalu membutuhkan peralatan serta bantuan medis yang terus menerus. Anak cacat ganda sangat tergantung pada orangtuanya sehingga membutuhkan pendidikan yang khusus serta perawatan yang intensif. Dapat Anda bayangkan betapa merepotkan, tetapi apapun yang terjadi anak akan terus tumbuh dan berkembang, dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki. Orang tua yang penuh syukur akan terus berusaha mengembangkan anaknya secara optimal agar dapat hidup mandiri, paling tidak untuk dapat mengurus dirinya sendiri.

Seringkali muncul pandangan masyarakat yang miring terhadap Anak Berkebutuhan Khusus, bahwa Anak Berkebutuhan Khusus berbeda dari yang lainnya, karena tidak berdaya, selalu ditolong, dan pada hakekatnya ABK selalu  menjadi beban orang lain.Reaksi masyarakat terhadap ABK juga sangat bervariatif ada yang bersikap positif, dengan membantu meringankan beban orang tau, mencarikan berbagai solusi, namun pada umumnya lebih banyak yang cenderung bersikap pasif atau bahkan bernada negatif.

Pandangan masyarakat yang demikian sudah tentu tidak semuanya benar, Banyak Anak Berkebutuhan Khusus memiliki kemampuan / potensi yang menonjol. Dari waktu ke waktu, pandangan tentang Anak Berkebutuhan Khusus terjadi perubahan, dimulai dari sikap/pandangan yang melihat anak cacat/ anak berkebutuhan khusus berbeda sama sekali dengan anak normal pada umumnya.Dengan fenomena baru bahwa Anak Berkebutuhan Khusus memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak pada umumnya.

Dengan adanya perkembangan pendidikan yang mengarah kepada pemberian kesempatan pada anak untuk mendapatkan penghargaan yang sama dan adanya pendidikan Inklusif, maka kesempatan terbuka bagi mereka untuk diterima didalam masyarakat secara Inklusif.


Sumber : Buku Pengantar PLB/Pengarang I.G.A.K.Warani

0 komentar:

Posting Komentar